Skip to main content

Aku Tidak Baik-Baik Saja

 Oleh : Wardahau

Malam dingin ini hanya mengingatkanku pada Kehilangan

Pada rasa sakit yang amat aku benci

Sialnya aku tetap merindukanmu

Ini menyulitkanku, dan aku tidak baik-baik saja

Bagaimana kamu bisa pergi begitu saja

Tanpa kata dan salam perpisahan

Pada setiap malam tiba tiba seperti ini

Aku selalu mempertanyakan perpisahan itu

Dan kamu tidak tahu menahu, kamu baik-baik saja

Mengapa hanya aku yang tidak bisa

Merasa tersiksa sendiri

Rasanya ini adil

Aku yang selalu lemah tentang dirimu

Yang setiap pagi selalu mengharapkanmu

Dan jika hari berganti akan selalu menantimu

Kebodohan dan kegilaan yang selalu aku lakukan

Aku tidak baik-baik saja

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Ketika Hukum dan Kekuasaan Bisa Dibeli: ‘Teruslah Bodoh Jangan Pintar’

Judul Buku : Teruslah Bodoh Jangan Pintar Penulis : Tere Liye Penerbit : Sabakgrip Tahun Terbit : Februari 2024 Tebal : 371. hlm Karya terbaru dari Darwis atau dikenal dengan nama pena Tere Liye kembali membuat saya terbawa suasana usai membaca buku berjudul ‘Teruslah Bodoh Jangan Pintar’ yang terbit Februari lalu. Sebenarnya sepanjang saya menghabiskan buku ini banyak rasa sesak dan prihatin dengan cerita yang disajikan dalam novel bergenre fiksi kriminal ini karena begitu dekat dan berani. Buku ini menarik perhatian saya usai comedian Ernest Prakasa membagikan ulasannya terkait buku Teruslah Bodoh Jangan Pintar dalam postingannya di Instagram. Yang menarik disampaikan bahwa buku ini mengandung alur yang sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, atau mungkin bisa dibilang mewakili suara masyarakat? Haha entahlah, namun buku ini hanya novel fiksi kata Tere Liye. Teruslah Bodoh Jangan Pintar memiliki alur maju mundur yang berkisah soal kejadian sidang konsesi di ruangan 3x6 meter. Adu a...

Sehari di Museum Pos Indonesia

Tampak Depan Museum Pos Indonesia

Kisah Perjalanan Pendakian Pertama (Gn. Guntur)

 Oleh : Wardahau            Siapa tak kenal dengan pesona Gunung Guntur? Gunung yang selalu menjadi pijakan para pendaki ini memang tak pernah lengang keeksisannya. Seperti kedatangan 10 orang muda-mudi yang untuk pertama kalinya mencoba mendaki, dan memilih Gunung Guntur sebagai wahana untuk ditaklukkannya.             Di bawah langit yang sedari tadi cerah, kian lama kian meredup. Satu dua tetes butiran air dari langit menetes pada pipi, tangan, baju, dan yang lainnya. Tanda-tanda hujan sudah tiba. Dengan mengambil rute samarang, Cikahuripan, mobil pick-up yang ditumpangi berhenti di sekitaran kebun warga. Kisah perjalanan panjang akan segera di mulai. Sesampainya, semua orang segera turun dari mobil pick-up sembari menggendong tas gunung masing-masing. Melanjutkannya dengan berjalan menyusuri ladang dan kebun para warga. Ditemani dengan rintik hujan yang kian membesar, cukup untuk membuat ...